Selasa, 22 Januari 2008

Penjas & Etos Kerja

SEKOLAH menengah kejuruan (SMK) sebagai suatu institusi yang menyiapkan tenaga kerja bagi para tamatannya, harus mampu menghasilkan lulusan yang memiliki kompetisi, daya saing tinggi, dan daya adaptasi sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat dan dunia kerja.

Akan tetapi, pada praktiknya di lapangan kerja, seseorang tidak cukup berbekal ilmu pengetahuan dan keterampilan yang diperolehnya di institusi tempat dulu ia melewati masa pendidikan. Lebih dari itu, ia pun harus memiliki karakter yang mengarah pada tingginya etos kerja sebagai modal tambahan agar ia bisa kompetitif.

Guna menjawab peroslan itu, secara substansial bisa melalui pembelajaran pendidikan jasmani (penjas) yang sebelumnya dikenal dengan sebutan olah raga kesehatan (orkes) atau pendidikan jasmani dan kesehatan (penjaskes). Penjas merupakan pendidikan yang mengakutalisasikan potensi-potensi aktivitas manusia berupa sikap, tindak, dan karya yang diberi bentuk, isi, dan arah menuju kebulatan pribadi sesuai dengan cita-cita kemanusiaan. Meski tentu saja, guru selaku motivator dan fasilitator, memiliki peranan penting dalam memberikan arti dan makna pembelajaran penjas dan olahraga sebagai sarana/alat.

Pendidikan jasmani, lebih jelasnya adalah bagian dari pendidikan secara menyeluruh dan memiliki sumbangan yang sangat positif dalam membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani siswa secara utuh dan tidak dapat dipisah-pisahkan. Melalui kegiatan jasmani dan olahraga sebagai alat pendidikan, siswa akan memiliki kebugaran jasmani, kesehatan mental/rohani, serta secara khusus akan semakin berkembang beberapa kecakapan hidupnya (life skills) yang berupa potensi terpendam.

Potensi kecakapan terpendam tersebut berupa:

- kecakapan personal (kecakapan berpikir, kesadaran akan potensi diri).

- kecakapan sosial (kerja sama, berkomunikasi).

- kecakapan akademik (mampu membuat keputusan yang efektif).

- Kecakapan vokasional (bekerja sesuai dengan keahliannya).

Sementara itu, pendidikan dengan menggunakan pendekatan life skills, diartikan sebagai seperangkat kemampuan unjuk kerja yang dikuasai seseorang dan didukung oleh seperangkat ciri kepribadian yang positif sehingga membantunya berhasil dalam hidup.

Selain itu, sukses tidaknya seseorang dalam kehidupan, baik lingkungan keluarga, sekolah, di tempat kerja dan di masyarakatnya, dapat ditentukan oleh seberapa banyak ia memiliki kecakapan-kecakapan hidup yang sangat dibutuhkan. Sifat dan karakter anak akan nampak saat proses pembelajaran berlangsung, dalam hal ini guru harus dapat meramu dan mengelola bahan ajar yang akan merangsang potensi siswa untuk berkembang, sesuai dengan kemampuan, bakat dan perbedaan-perbedaan yang ada pada setiap individu.

Dalam kaitan ini, seorang guru penjas dituntut mampu menyusun program latihan secara sistematis, terencana, dan berkesinambungan serta harus dapat bekerja sama dengan lembaga atau pihak terkait yang menangani masalah pembinaan dan prestasi olah raga.



Kurikulum

SEMENTARA itu, dengan lahirnya kurikulum yang berbasis kompetisi, peluang terciptanya harapan di atas semakin terbuka. Seorang anak didik jika telah menyelesaikan pendidikannya kelak, ia tidak hanya dapat bekerja yang sesuai dengan bidang keahlian produktifnya saja misal: teknik otomotif, bisnis manajamen atau keahlian lain, akan tetapi dapat pula menjadikan olahraga sebagai mata pencaharian/pekerjaannya yang dapat menghasilkan banyak uang. Apalagi sekarang ini dunia olahraga sudah menjadi sebuah industri yang sangat menjanjikan.

Hanya tentu saja, untuk melahirkan kurikulum yang implementatif menghendaki adanya keterlibatan penuh dari berbagai pihak seperti; pemda setempat, sekolah, dan masyarakat, mulai dari penyusunan, pelaksanaan, hingga proses evaluasi.

Sebagaimana dimaklumi, bahwa suatu kurikulum akan senantiasa mengalami penyesuaian sejalan dengan laju perkembangan zaman. Hal itu bisa dimaklumi, karena dalam upaya mengejar ketertinggalan sekolah dari semakin pesatnya kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi/industri, dan tidak hanya asyik dengan urusannya masing-masing.

Kegiatan kurikuler pendidikan jasmani, ditujukan bagi seluruh peserta didik dengan memerhatikan karakteristik dan perbedaan individu, baik minat, bakat, dan kemampuannya. Tujuannya untuk memperkaya pengalaman gerak, terbinanya pola hidup aktif dan sehat, serta bersifat wajib diikuti oleh seluruh anak didik.

Sementara itu, pendekatannya menggunakan beberapa model strategi pembelajaran, antara lain eksplorasi, penugasan, pemecahan masalah, pendekatan bermain, pendekatan teknis/taktis, dan diskusi. Sedangkan aspek evaluasi berdasarkan proses, jadi tidak semata-mata berdasarkan hasil.

Sejalan dengan itu, sekolah dengan model pengelolaan manajemen berbasis sekolah (MBS) memiliki kewenangan bersama-sama komite sekolah untuk menggali, mengelola, dan mengalokasikan segala sumber daya yang tersedia secara mandiri dalam upaya lebih meningkatkan mutu dan kualitas para lulusannya.

Namun demikian, ada pra syarat untuk mencapai kesuksesan itu, yakni sekolah harus bisa memfasilitasi usaha-usaha yang menjadi tujuan dan sasaran yang ingin dicapai. Umpamanya, di sekolah harus tersedia sarana dan prasarana yang memadai. Jumlah guru penjas terpenuhi terpenuhi sesuai dengan kompetensinya. Kemudian menciptakan budaya gerak bagi seluruh warga sekolah, ikut serta dalam pertandingan-pertandingan olahraga antarsekolah, membentuk klub-klub olahraga, dll.

Melalui perbaikan dan perubahan paradigma dalam model dan proses pembelajaran penjas, mudah-mudahan memberikan harapan besar bagi terjadinya kesesuaian dan keterkaitan (link and macth) antara apa yang dipelajari dan dengan apa yang dibutuhkan di masyarakat. Semoga.***

Drs. USMAN SUHERMAN...guru SMK Negeri 1 Katapang Kab. Bandung